Review Buku: So You've Been Publicly Shamed


Penulis: Jon Ronson
Penerbit: Riverhead Books
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 309
ISBN: 978-1-59448-713-2
Bahasa: Inggris

Everyday people, some with young people, have been annihilated for tweeting some badly worded joke to their hundred or so followers. I'd meet them in restaurants and airport cafes - spectral figures wandering the earth like the living dead in the businesswear of their former lives.

Ada masa ketika media sosial dan internet benar-benar menjadi pemberi suara bagi mereka yang tak bersuara, begitulah pendapat Jon Ronson pada awal buku nonfiksi ini. Dia memberi beberapa contoh: akademisi yang mencatut namanya untuk membuat akun Twitter palsu dengan dalih "untuk kepentingan studi". Jaringan pusat kebugaran besar yang menolak memutus langganan berbayar pasangan suami-istri yang baru kehilangan pekerjaan. Situs berita besar dan tokoh publik yang berkomentar rasis. Ronson, seorang jurnalis yang cukup aktif di media sosial, bahkan pernah merasa sangat bangga karena bisa menjadi bagian dari "sistem keadilan tidak resmi" yang memihak rakyat kecil ini.

Akan tetapi, tren tersebut berubah, dan kita semua mungkin pernah melihatnya. Seorang wanita yang membiarkan anjingnya buang air besar di kereta diteror. Alamat rumah dan informasi pribadinya diretas serta disebarkan, dan dia dipecat dari pekerjaannya. Ada juga yang diteror dan dirisak berbulan-bulan karena mengeluh tentang kota tempat tinggalnya di media privat. Pemilik akun Twitter yang pengikutnya hanya 100-an orang melontarkan humor satir yang disampaikan secara buruk, dan kehebohan yang berlanjut membuatnya dipecat dari pekerjaannya serta mengalami gangguan psikologis. "Kita bangga karena berhasil menjatuhkan orang yang kita anggap buruk," ujar Ronson. "Tetapi, setelah dia terkapar di tanah, kita masih terus menendangnya."

Terdengar familiar?

So You've Been Publicly Shamed bukan buku "panduan psikologis dalam memahami perilaku perisakan siber." Jon Ronson menggunakan pendekatan jurnalistik dan memotret kedalaman fenomena ini dari berbagai cerita yang diliput atau digalinya sendiri. Buku ini bahkan dibuka dengan pengalaman Ronson bertemu tiga akademisi yang membuat akun Twitter yang mencatut namanya untuk "penelitian." Setelah merekam dan mengunggah interaksinya dengan ketiga akademisi tersebut, Ronson yang mulanya senang melihat komentator YouTube mengecam para akademisi itu menjadi ragu ketika melihat para komentator semakin kejam, bahkan menyebut bahwa ketiganya lebih baik mati.

Beberapa studi kasus pertama yang dibahas Ronson dalam separuh buku adalah sesuatu yang cukup familiar untuk saya, yang selama beberapa tahun sempat bergumul di Twitter sebelum memutuskan hengkang. Ada penulis sains pop Jonah Lehrer yang karirnya tamat setelah skandal plagiarisme yang dibongkar jurnalis lepas Michael Moynihan. Ada Adria Richars yang cuitan salah arahnya tentang dua peserta konferensi teknologi membuat keduanya dipecat. Dan tentu saja, ada Justine Sacco, wanita karir sukses yang cuitannya tentang "Pergi ke Afrika, semoga tidak kena AIDS" membuatnya menjadi trending topic pada tahun 2013, dan berbuntut cyberbully serta kehancuran karirnya (Sacco belakangan memberi konfirmasi bahwa cuitan tersebut adalah humor satir tentang perilaku orang Amerika yang kerap tidak mau tahu tentang kondisi dunia, tetapi disampaikan dengan buruk).

Kasus terakhir ini mungkin yang paling terkenal dari berbagai peristiwa serupa yang diliput Ronson, sehingga dia menjadikannya sebagai bahan sesi TEDTalk pada tahun 2015. Sama seperti narasinya di video tersebut yang menarik, Ronson menulis dengan gaya yang membuat saya menanti-nanti apa yang akan terjadi selanjutnya, walau saya tentu sudah tahu akhirnya. Seperti kisah kriminal prosedural, Ronson memulai setiap diskusi kasus dengan sedikit narasi tentang fenomena witch hunt dan cyberbully sebelum satu demi satu menjajaki kisah setiap orang berdasarkan gambaran kasus mereka. Sejujurnya, saya terkadang sedikit merasa bersalah setiap menelusuri kisah-kisah para subjek Ronson di buku ini, karena rasanya seperti mengikuti sebuah kisah tragedi yang ternyata menarik diikuti, walau dalam buku ini, tragedi tersebut nyata.

Ritme buku Ronson menurut saya sedikit menurun pada Bab 5. Dalam bab ini, Ronson mengajak kita kembali ke masa lalu dan menguak asal-usul tradisi public shaming, sesuatu yang menurut saya justru tidak dijelajahinya secara mendalam karena public shaming bukan sesuatu yang baru. Menurut saya, bagian ini malah seharusnya menjadi buku tersendiri, karena saya jujur lebih tertarik membaca tentang kasus-kasus public shaming era digital yang diteliti Ronson, sesuatu yang lebih relevan dengan hidup saya. Tapi, jika sedang punya waktu luang, penjelasan Ronson tentang penerapan eksploitasi rasa malu dalam dunia hukum cukup menarik, dan dia menggunakan keahlian jurnalistiknya untuk memberikan berbagai ilustrasi menarik.

Ronson mungkin membahas sesuatu yang sudah kita pahami, namun kisah-kisahnya memberi nyawa pada fenomena penghancuran total seseorang karena kesalahan kecil, tanpa memberi mereka kesempatan untuk berubah. Tren istilah witch hunt kini sudah berubah menjadi cancel culture, tetapi konsepnya serupa. Setiap orang hanya berjarak satu rekaman atau foto diam-diam dari kehancuran sosial, psikologis, bahkan karir. Satu kesalahan memberi mereka stempel permanen, seringkali hingga kematian mereka. Kita ingin dilihat sebagai seseorang yang penuh kasih dan rasa keadilan, kata Ronson, tetapi ironisnya, perasaan itu sering mendorong kita menjadi algojo, bukannya pengacara pembela yang penuh kasih dan pertimbangan.


Buku ini bukan ensiklopedi tentang public shaming. Bukan buku tips untuk menghindari perilaku tersebut. So You've Been Publicly Shamed lebih tepat disebut paduan karya jurnalisme investigasi ringan dan studi kasus, tetapi disampaikan dengan narasi memikat. Walau merupakan buku yang menarik, saya tidak bisa menghindari perasaan gamang bahwa apa yang dibahas Ronson masih relevan hingga kini, bahkan sepertinya semakin parah. Seperti kata Ronson dalam buku ini maupun video TEDTalk: "Langkah paling aman adalah kembali menjadi sosok yang tidak bersuara."

Komentar

Postingan Populer